Berkah Dalem Gusti

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono,SS ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Sabtu, 03 Oktober 2026

Lintas Iman

Kegiatan dialog lintas iman di Kabupaten Bantul, khususnya dalam konteks tugas Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kabupaten Bantul, kegiatan dapat dikemas sebagai program penguatan kerukunan umat beragama dan moderasi beragama.

Kegiatan Dialog Lintas Iman Kabupaten Bantul

Nama Kegiatan:
Dialog Lintas Iman dalam Membangun Kerukunan dan Perdamaian di Kabupaten Bantul

Tema:

“Merawat Kerukunan, Memperkuat Persaudaraan, Mewujudkan Bantul yang Damai”

Peserta:

  • Penyuluh Agama dari berbagai agama
  • Tokoh agama Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu
  • Tokoh masyarakat
  • Pengurus FKUB
  • Pemuda lintas iman
  • Perwakilan umat/paroki dan komunitas keagamaan
  • Unsur Kemenag Kabupaten Bantul

Tujuan

  1. Membangun komunikasi dan persaudaraan antarumat beragama.
  2. Meningkatkan sikap saling menghormati perbedaan keyakinan.
  3. Mencegah berkembangnya prasangka dan konflik bernuansa agama.
  4. Memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat.
  5. Mendorong kerja sama lintas iman dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
  6. Membangun jejaring pelayanan kemanusiaan antarumat beragama di Kabupaten Bantul.

Bentuk Kegiatan

1. Dialog dan Sharing Lintas Iman
Masing-masing tokoh agama menyampaikan pandangan mengenai nilai-nilai kasih, persaudaraan, perdamaian, dan kepedulian terhadap sesama.

2. Forum Pemuda Lintas Iman
Mengangkat tema seperti:

“Generasi Muda Lintas Iman sebagai Pelopor Perdamaian.”

3. Bakti Sosial Lintas Agama
Misalnya:

  • bantuan bagi masyarakat kurang mampu;
  • donor darah;
  • pelayanan kepada lansia;
  • bantuan air bersih;
  • kegiatan sosial bagi warga terdampak bencana.

4. Kunjungan Persaudaraan
Kunjungan ke tempat ibadah atau komunitas agama lain sebagai sarana mengenal tradisi dan membangun persaudaraan.

5. Doa Bersama dalam Bentuk yang Menghormati Kekhasan Masing-Masing Agama
Dapat dilakukan dengan format refleksi atau doa menurut tradisi masing-masing, tanpa mencampuradukkan ajaran agama.

Materi Dialog

No. Materi Nilai yang Dibangun
1 Kerukunan dalam keberagaman Toleransi
2 Moderasi beragama Keseimbangan dan sikap terbuka
3 Agama dan perdamaian Kedamaian
4 Mengatasi prasangka antarumat Saling menghormati
5 Peran pemuda lintas iman Persaudaraan
6 Kerja sama sosial kemanusiaan Solidaritas
7 Menjaga persatuan bangsa Nasionalisme

Indikator keberhasilan

  • Terlaksananya 1 kegiatan dialog lintas iman dengan melibatkan minimal 5 unsur/komunitas keagamaan.
  • Peserta mengikuti dialog sampai selesai.
  • Terbangunnya komunikasi dan jejaring kerja sama antarumat beragama.
  • Peserta mampu menyebutkan minimal 3 nilai penting dalam membangun kerukunan.
  • Terbentuk minimal 1 rencana kegiatan sosial lintas iman sebagai tindak lanjut.
  • Tersusunnya dokumentasi dan laporan kegiatan sebagai bahan evaluasi penyuluhan.


Kegiatan: Dialog Lintas Iman
Sasaran: Tokoh agama, penyuluh agama, pemuda dan masyarakat lintas agama Kabupaten Bantul.
Tujuan: Meningkatkan pemahaman, komunikasi, toleransi, dan kerja sama antarumat beragama dalam rangka memperkuat kerukunan umat beragama.
Hasil: Terjalin komunikasi positif antarumat beragama, meningkatnya pemahaman mengenai pentingnya menghargai perbedaan, serta munculnya komitmen untuk membangun kerja sama dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Indikator terukur: Peserta aktif mengikuti dialog, mampu mengidentifikasi nilai-nilai kerukunan, serta menghasilkan kesepakatan/rencana tindak lanjut kegiatan bersama lintas iman.

Rekap Sep 26

Rekapitulasi Kelompok Binaan Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Bantul Bulan September 2026.

REKAPITULASI KELOMPOK BINAAN

PENYULUH AGAMA KATOLIK KABUPATEN BANTUL

BULAN SEPTEMBER 2026

Nama Penyuluh: Rogatianus Slamet Widiantono, SS
Jabatan: Penyuluh Agama Katolik
Instansi: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul
Periode: September 2026

No. Kelompok Binaan Lokasi Waktu Kegiatan Sasaran Binaan Materi/Fokus Pembinaan Bentuk Kegiatan
1 Remaja Katolik Panti Bina Putra Panti Bina Putra Selasa, 17.00–18.00 Remaja Katolik Kecaplah Tuhan, pendalaman iman dan Sabda Tuhan Penyuluhan, sharing, refleksi
2 Bina Iman Remaja Pandak Pandak Senin, 12.30–15.15 Remaja usia 12–15 tahun Pendalaman iman dan pembinaan karakter Kristiani Penyuluhan, diskusi, permainan edukatif
3 Remaja Katolik Imogiri Imogiri Selasa, 13.00–15.00 Remaja Katolik Pembinaan iman dan kehidupan menggereja Penyuluhan, sharing, refleksi
4 PIA Pringgolayan Pringgolayan Sesuai jadwal kegiatan Anak-anak Katolik Bina iman anak, doa dan pengenalan Sabda Tuhan Bina iman, permainan, doa
5 Lingkungan Gabriel Pringgolayan Kamis malam / malam Jumat bergilir Umat lingkungan Pendalaman Kitab Suci dan pengajaran Yesus Pendalaman KS, sharing, doa
6 Rutan Pajangan Rutan Pajangan Kamis, 10.00–12.00 Warga binaan Pendalaman iman, penguatan rohani dan pengharapan Penyuluhan, pendampingan rohani
7 Legio Maria Pringgolayan Pringgolayan Kamis, 08.00–10.00 Anggota Legio Maria Spiritualitas Maria, doa dan pelayanan Pendampingan, doa, refleksi
8 Kelompok Lansia Pringgolayan Pringgolayan Sabtu, 08.00–10.00 Umat lanjut usia Penguatan iman, doa dan pendampingan kehidupan Penyuluhan, doa, sharing
9 Waton Guna/Guno Bantul Senin, 18.00–21.00 Umat Katolik Pendalaman iman dan kehidupan Kristiani Penyuluhan, sharing, pendalaman KS
10 SD Negeri Piyungan Piyungan Selasa, 08.00–12.00 Siswa Katolik Pendidikan dan pembinaan iman Katolik Pembelajaran, penyuluhan, pendampingan
11 Misa Pelajar Pugeran Jumat II Pelajar Katolik Pembinaan iman pelajar dan penghayatan Ekaristi Pendampingan, pembinaan, peribadatan
12 Oikumene Katolik-Kristen Wilayah binaan Senin minggu ke-2/4 Umat Katolik dan Kristen Persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama Dialog, doa, kebersamaan
13 Team Pelayanan HAAK Paroki Pringgolayan Sesuai agenda Tim pelayanan Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Koordinasi, pembinaan, pelayanan
14 Koor Pemberkatan Jenasah Lingkungan Matius Jumat, 11.00–14.00 Anggota koor/pelayan umat Pelayanan liturgi dan pendampingan umat berduka Latihan, koordinasi, pelayanan
15 BKSN Pringgolayan Pringgolayan Agustus–September Umat Katolik Pendalaman Kitab Suci Pendalaman KS, sharing, refleksi

Rekap berdasarkan kelompok sasaran

No. Sasaran Binaan Kelompok yang Dibina Fokus Utama
1 Anak-anak PIA Pringgolayan, SD Negeri Piyungan Bina iman, doa, pengenalan Kitab Suci
2 Remaja Remaja Panti Bina Putra, Bina Iman Remaja Pandak, Remaja Imogiri Karakter, iman, Sabda Tuhan
3 Pelajar Misa Pelajar Pugeran, SD Negeri Piyungan Penghayatan iman dan kehidupan sehari-hari
4 Dewasa Lingkungan Gabriel, Waton Guna/Guno Pendalaman iman dan Kitab Suci
5 Lansia Lansia Pringgolayan Penguatan iman dan pendampingan rohani
6 Warga binaan Rutan Pajangan Pemulihan, pengharapan dan penguatan iman
7 Pelayan Gereja Legio Maria, Koor Pemberkatan Jenasah Spiritualitas dan pelayanan
8 Lintas iman Oikumene Katolik-Kristen, Team HAAK Kerukunan dan persaudaraan

Rekap fokus materi September 2026

📖 1. Pendalaman Kitab Suci

Menjadi fokus utama dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN), dengan mengajak umat:

  • membaca Kitab Suci;
  • memahami pesan Sabda Tuhan;
  • melakukan refleksi;
  • menghubungkan Sabda dengan kehidupan;
  • mewujudkan Sabda dalam tindakan.

❤️ 2. Pembinaan Karakter Kristiani

Nilai yang ditekankan: kasih, pengampunan, kerendahan hati, kejujuran, tanggung jawab, pelayanan, solidaritas, dan persaudaraan.

🤝 3. Pendampingan Kelompok Khusus

Khususnya:

  • remaja;
  • anak-anak;
  • lansia;
  • warga binaan Rutan Pajangan;
  • pelajar;
  • pelayan Gereja.

🕊️ 4. Kerukunan Antarumat Beragama

Melalui Oikumene Katolik-Kristen dan Team Pelayanan HAAK Paroki Pringgolayan, pembinaan diarahkan pada:

  • dialog;
  • toleransi;
  • saling menghormati;
  • kerja sama;
  • persaudaraan;
  • menjaga kerukunan masyarakat.

Rumusan hasil kegiatan untuk laporan

Hasil yang dicapai:

Terlaksananya pembinaan dan pendampingan kelompok binaan umat Katolik di Kabupaten Bantul selama bulan September 2026 melalui kegiatan penyuluhan, pendalaman Kitab Suci, pembinaan iman, pendampingan remaja dan anak, penguatan rohani warga binaan, pendampingan lansia, serta pengembangan kerukunan dan hubungan antaragama. Kegiatan mendorong peserta untuk memahami Sabda Tuhan, menghayati nilai-nilai Kristiani, serta mewujudkannya dalam kehidupan keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Indikator terukur:

  1. Terlaksananya kegiatan pembinaan sesuai jadwal kelompok binaan.
  2. Peserta memperoleh materi pendalaman iman dan Kitab Suci.
  3. Peserta mampu mengidentifikasi pesan utama Sabda Tuhan.
  4. Peserta mampu menyebutkan nilai keutamaan yang relevan dengan kehidupan.
  5. Peserta menyusun atau melaksanakan tindakan nyata sebagai penerapan Sabda Tuhan.
  6. Terbangunnya komunikasi, persaudaraan, dan kepedulian dalam kelompok binaan.
  7. Terlaksananya pendampingan khusus bagi anak, remaja, lansia, pelajar, dan warga binaan.


Senin, 28 September 2026

Umat Katolik di Bantul

Deskripsi, Kehadiran, Pengaruh, dan Partisipasi Umat Katolik di Kabupaten Bantul

Umat Katolik di Kabupaten Bantul merupakan bagian dari masyarakat yang hidup dalam lingkungan sosial, budaya, dan keagamaan yang beragam. Berdasarkan data tahun 2023, jumlah penduduk beragama Katolik di Kabupaten Bantul tercatat sebanyak 24.725 jiwa. Umat Katolik tersebar di berbagai kapanewon dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda-beda.

Persebaran umat Katolik tidak merata di seluruh wilayah Kabupaten Bantul. Jumlah umat yang relatif besar terdapat di beberapa wilayah seperti Kapanewon Kasihan, Banguntapan, Bambanglipuro, Sedayu, Bantul, dan Sewon. Sementara itu, sejumlah kapanewon lainnya memiliki jumlah umat Katolik yang lebih kecil. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya karakteristik demografis dan perkembangan komunitas keagamaan yang berbeda pada setiap wilayah.

Kehadiran umat Katolik di Kabupaten Bantul terlihat melalui keberadaan gereja, kapel, komunitas umat, lembaga pendidikan, serta berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Rumah ibadat tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan iman, pengembangan komunitas, kegiatan kepemudaan, pelayanan sosial, serta interaksi dengan masyarakat sekitar.

Partisipasi Aktif dalam Kehidupan Bermasyarakat

Umat Katolik di Kabupaten Bantul turut mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, dan kebudayaan. Partisipasi tersebut dilakukan baik secara individu maupun melalui komunitas, lingkungan gereja, organisasi sosial, maupun lembaga pendidikan yang berada dalam lingkungan Katolik.

Dalam kehidupan di tingkat lingkungan dan masyarakat, umat Katolik dapat berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong, kerja bakti, kegiatan sosial, pertemuan warga, kegiatan kemasyarakatan, serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan bersama oleh masyarakat setempat. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan tidak terpisah dari kehidupan sosial, melainkan menjadi bagian dari tanggung jawab umat sebagai anggota masyarakat.

Partisipasi juga terlihat dalam kegiatan pelayanan sosial dan kemanusiaan, seperti bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, kegiatan solidaritas sosial, penggalangan bantuan ketika terjadi bencana, pendampingan kelompok rentan, serta kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dapat menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus sarana membangun hubungan yang baik antara umat Katolik dengan masyarakat luas.

Di bidang pendidikan dan kepemudaan, komunitas Katolik turut mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial, organisasi, kegiatan kebudayaan, dan pelayanan masyarakat. Keterlibatan kaum muda tersebut penting dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial serta menumbuhkan sikap toleransi dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Umat Katolik juga berpartisipasi dalam menjaga kerukunan dan hubungan antarumat beragama. Dalam masyarakat Bantul yang memiliki keberagaman agama dan kepercayaan, keterlibatan dalam kegiatan bersama serta komunikasi dengan tokoh dan kelompok masyarakat lainnya dapat menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang harmonis. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial bersama, dialog, kerja sama kemasyarakatan, dan kegiatan lintas agama yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Pengaruh dan Kehadiran dalam Masyarakat

Pengaruh kehadiran umat Katolik di Kabupaten Bantul dapat dilihat terutama melalui kontribusi sosial, pendidikan, pelayanan kemanusiaan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan komunitas Katolik menjadi salah satu unsur dalam keragaman sosial-keagamaan Kabupaten Bantul.

Kontribusi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas internal keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan sosial, pendidikan, pelayanan kemanusiaan, kegiatan lingkungan, dan partisipasi dalam kehidupan warga, umat Katolik ikut memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dengan demikian, kehadiran umat Katolik di Kabupaten Bantul dapat dipahami dalam tiga aspek utama, yaitu kehadiran demografis, kehadiran kelembagaan, dan kehadiran sosial. Kehadiran demografis ditunjukkan oleh jumlah dan persebaran umat; kehadiran kelembagaan ditunjukkan oleh gereja, kapel, komunitas, dan lembaga terkait; sedangkan kehadiran sosial terlihat dari partisipasi aktif umat dalam kegiatan kemasyarakatan, pelayanan sosial, pendidikan, lingkungan, serta upaya menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Secara keseluruhan, umat Katolik merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Bantul yang turut berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Keterlibatan dalam gotong royong, pelayanan sosial, pendidikan, kegiatan lingkungan, kepemudaan, serta hubungan antarumat beragama menunjukkan bahwa aktivitas umat tidak hanya berorientasi pada kehidupan internal komunitas, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat secara lebih luas.

Minggu, 27 September 2026

Pendampingan orang sakit


MATERI PENYULUHAN AGAMA KATOLIK

“Hadir Membawa Penghiburan bagi Orang Sakit”

Pendampingan Orang Sakit dalam Terang Iman Katolik

✝️ 1. Tujuan Pendampingan

Pendampingan orang sakit bertujuan membantu mereka agar:

  • merasa tidak sendirian dalam menghadapi sakit;
  • tetap memiliki harapan dan kekuatan iman;
  • merasakan kasih Tuhan melalui kehadiran sesama;
  • mampu menerima dan menjalani keadaan dengan pendampingan yang penuh kasih;
  • keluarga juga mendapatkan dukungan dan penguatan.

📖 2. Dasar Kitab Suci

Matius 25:40

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Ayat ini mengingatkan bahwa ketika kita hadir bagi orang sakit, kita sebenarnya sedang menghadirkan kasih Kristus.

Yakobus 5:14

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan dia…”

Gereja mengajarkan bahwa orang sakit membutuhkan perhatian, doa, pendampingan, dan pelayanan Gereja.


❤️ 3. Apa yang Dimaksud dengan Pendampingan?

Pendampingan bukan berarti kita harus mampu menyembuhkan penyakitnya.

Pendampingan berarti hadir, mendengarkan, menguatkan, mendoakan, dan membantu sesuai kebutuhan.

Kadang-kadang orang sakit tidak membutuhkan banyak nasihat.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Saya ada di sini. Anda tidak sendirian. Mari kita berdoa bersama.”


🌿 4. Sikap Seorang Pendamping

👂 A. Mau mendengarkan

Berikan kesempatan kepada orang sakit untuk bercerita.

Jangan terburu-buru memotong pembicaraan atau memberikan nasihat.

🤝 B. Hadir dengan tulus

Kehadiran yang sederhana dapat menjadi sumber kekuatan.

Tidak harus lama. Yang penting tulus dan penuh perhatian.

🙏 C. Mengajak berdoa

Doa dapat menjadi sumber penghiburan dan harapan.

Misalnya:

“Tuhan Yesus, sertailah saudara kami yang sedang sakit. Berikan kekuatan, ketenangan, dan pengharapan. Sertailah pula keluarganya. Amin.”

💬 D. Memberikan kata-kata yang menguatkan

Gunakan kalimat seperti:

  • “Kami mendoakanmu.”
  • “Tuhan selalu menyertaimu.”
  • “Jangan merasa sendirian.”
  • “Semoga Tuhan memberikan kekuatan.”
  • “Kalau ada yang bisa kami bantu, kami siap membantu.”

Hindari kalimat yang membuat orang sakit merasa disalahkan, misalnya “Kamu pasti kurang berdoa” atau “Ini pasti karena dosa.”


✝️ 5. Pelayanan Gereja bagi Orang Sakit

Dalam Gereja Katolik, pendampingan dapat diwujudkan melalui:

  1. Doa bersama.
  2. Kunjungan pastoral.
  3. Komuni untuk orang sakit, sesuai ketentuan pelayanan Gereja.
  4. Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi mereka yang membutuhkan.
  5. Pendampingan keluarga.
  6. Membantu kebutuhan praktis sesuai kemampuan dan kewenangan.

Pendamping awam hendaknya berkoordinasi dengan lingkungan, wilayah, ketua umat, atau pastor paroki bila diperlukan pelayanan sakramental.


🌟 6. Aktivitas Penyuluhan: “Aku Hadir untukmu”

Minta peserta berpasangan.

Satu orang berperan sebagai orang yang sedang sakit dan satu orang sebagai pendamping.

Tugas pendamping hanya:

mendengarkan selama 2 menit tanpa menghakimi dan tanpa memberikan nasihat berlebihan.

Setelah itu bertukar peran.

Refleksi:

  • Bagaimana rasanya ketika benar-benar didengarkan?
  • Apa yang paling dibutuhkan orang sakit dari seorang pendamping?
  • Apakah saya selama ini lebih banyak berbicara atau mendengarkan?

💡 7. Pesan Moral

“Orang sakit mungkin tidak selalu membutuhkan jawaban atas semua masalahnya. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang hadir dengan hati penuh kasih.”

Pendampingan orang sakit adalah bentuk nyata dari kasih Kristus.

Kita tidak selalu mampu mengubah keadaan, tetapi kita dapat membuat seseorang merasa dikasihi, diperhatikan, dan tidak sendirian.

🌈 Kalimat motivasi

“Jadilah tangan yang menolong, telinga yang mendengarkan, hati yang menguatkan, dan doa yang menyertai.”


 

Menjadi Pelayan

 

MATERI PENYULUHAN AGAMA KATOLIK

“Bukan Siapa yang Terbesar, tetapi Siapa yang Mau Melayani”

Berdasarkan Injil Lukas 9:46–50

Sasaran: Remaja/Orang Muda Katolik
Durasi: ±60 menit
Tema: Kerendahan hati, penerimaan, dan keterbukaan dalam mengikuti Yesus


✝️ 1. Tujuan Penyuluhan

Setelah mengikuti penyuluhan, peserta diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pesan utama Lukas 9:46–50.
  2. Menyadari bahwa menjadi pengikut Yesus bukan soal mencari kedudukan atau menjadi yang paling hebat.
  3. Menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani.
  4. Menghargai orang lain yang berbuat baik meskipun berbeda kelompok atau komunitas.
  5. Mempraktikkan semangat pelayanan dalam keluarga, sekolah, lingkungan, dan Gereja.

📖 2. Bacaan Injil: Lukas 9:46–50

Dalam bacaan ini terjadi tiga hal penting:

A. Para murid memperdebatkan siapa yang terbesar

Para murid masih berpikir tentang kedudukan dan kehebatan.

Yesus mengetahui pikiran mereka. Ia kemudian mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

B. Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati

Yesus menunjukkan bahwa menerima seorang anak kecil berarti menerima Dia dan juga menerima Bapa yang mengutus-Nya.

Pesannya jelas:

Kebesaran di hadapan Tuhan tidak diukur dari jabatan, popularitas, kekayaan, atau banyaknya pengikut, tetapi dari kerendahan hati dan kesediaan melayani.

C. Jangan menghalangi orang yang berbuat baik

Yohanes berkata bahwa mereka melihat seseorang mengusir setan dalam nama Yesus, tetapi orang itu bukan bagian dari kelompok mereka.

Yesus menjawab agar mereka tidak menghalanginya, sebab:

“Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Artinya, murid Yesus dipanggil untuk memiliki hati yang terbuka, bukan mudah merasa paling benar atau merasa kelompoknya paling hebat.


🌱 3. Renungan Penyuluhan

“Tuhan Tidak Mencari yang Paling Hebat”

Kadang-kadang kita ingin menjadi yang paling menonjol.

Di sekolah ingin paling populer.
Di kelompok ingin paling didengar.
Di Gereja ingin dianggap paling berjasa.
Dalam pelayanan kadang kita ingin nama kita disebut.

Namun Yesus mengajak kita melihat sesuatu yang berbeda.

Yang besar di mata Tuhan bukanlah orang yang paling banyak dipuji, tetapi orang yang mau merendahkan hati dan melayani.

Seorang anak kecil menjadi contoh yang diberikan Yesus. Anak kecil menggambarkan ketulusan, keterbukaan, dan ketergantungan.

Yesus juga mengingatkan agar kita tidak mudah berkata:

“Dia bukan kelompok kita.”
“Dia bukan komunitas kita.”
“Dia berbeda dengan kita.”

Selama seseorang melakukan kebaikan dan tidak melawan kehendak Tuhan, kita tidak perlu menghalanginya.

✨ Pertanyaan untuk kita:

Apakah saya lebih sering ingin dilayani atau melayani?

Apakah saya mudah menghargai orang lain yang berbeda dengan saya?


❤️ 4. Pesan Moral

Ada tiga sikap yang dapat kita bawa pulang:

🙏 1. Rendah hati

Jangan mengejar pengakuan manusia. Biarlah kebaikan kita menjadi persembahan bagi Tuhan.

🤝 2. Mau melayani

Jadilah orang yang hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.

💕 3. Terbuka terhadap sesama

Jangan membangun tembok karena perbedaan kelompok, komunitas, suku, atau latar belakang.


🎯 5. Games: “Siapa yang Bisa Melayani?”

Cara bermain:

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Berikan beberapa situasi:

  • Temanmu sedang sedih.
  • Ada teman yang tidak punya teman untuk bekerja kelompok.
  • Gereja membutuhkan bantuan membersihkan ruangan.
  • Ada teman baru yang berbeda daerah.
  • Temanmu melakukan kesalahan.

Setiap kelompok menjawab:

“Apa yang akan dilakukan seorang murid Yesus?”

Kemudian masing-masing kelompok mempraktikkan jawabannya selama 1 menit.

Kesimpulan games:

Menjadi murid Yesus bukan hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi berani melakukan kasih.


💬 6. Refleksi Pribadi

Minta peserta menutup mata sejenak dan menjawab dalam hati:

1. Apakah saya masih ingin menjadi yang paling hebat?

2. Siapa orang yang selama ini kurang saya hargai?

3. Apa satu kebaikan yang dapat saya lakukan minggu ini?

4. Apakah saya mau melayani tanpa harus mendapatkan pujian?

Berikan waktu sekitar 2 menit untuk hening.


✝️ 7. Komitmen

Ajak peserta mengucapkan bersama:

“Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk tidak mencari kehebatan diri sendiri.
Jadikan aku pribadi yang rendah hati, mau melayani, menghargai sesama, dan tidak menghalangi kebaikan orang lain.
Semoga melalui hidupku, semakin banyak orang merasakan kasih-Mu.
Amin.”


🌟 Kalimat Penutup

“Jangan sibuk mencari siapa yang paling besar. Jadilah pribadi yang paling siap melayani.”

Lukas 9:46–50 mengajak kita berpindah dari “ingin menjadi yang terbesar” menjadi “mau menjadi pelayan bagi sesama.”

Kamis, 17 September 2026

Bakti Sosial di Dlingo

 

LAPORAN KEGIATAN

BAKTI SOSIAL DROPPING AIR BERSIH

DI KECAMATAN DLINGO DAN KECAMATAN PANGGANG

OLEH PENYULUH LINTAS AGAMA SUB BAG TU

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANTUL

Hari/Tanggal: Kamis, 17 September 2026
Tempat: Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang, Kabupaten Bantul
Pelaksana: Penyuluh Lintas Agama Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Kondisi musim kemarau yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul mendorong perlunya kepedulian dan solidaritas bersama untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian sosial, memperkuat kerukunan umat beragama, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat, Penyuluh Lintas Agama Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul melaksanakan kegiatan bakti sosial berupa dropping air bersih di wilayah Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian Kementerian Agama terhadap masyarakat sekaligus sarana mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong lintas agama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

B. Dasar Kegiatan

  1. Tugas dan fungsi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul dalam memberikan pelayanan dan pembinaan kepada masyarakat.
  2. Peran Penyuluh Lintas Agama dalam membangun kerukunan, kepedulian sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
  3. Program kegiatan Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul.
  4. Hasil koordinasi Penyuluh Lintas Agama dengan pihak terkait mengenai kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

C. Maksud dan Tujuan

Kegiatan bakti sosial dropping air bersih ini bertujuan untuk:

  1. Membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kondisi kekeringan.
  2. Meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
  3. Meningkatkan kepedulian sosial dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
  4. Memperkuat sinergi dan kebersamaan Penyuluh Lintas Agama Kementerian Agama Kabupaten Bantul.
  5. Mewujudkan kehadiran Kementerian Agama yang dekat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
  6. Menumbuhkan semangat moderasi beragama melalui aksi sosial dan pelayanan kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok masyarakat.

II. PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Nama Kegiatan

Bakti Sosial Dropping Air Bersih bagi Masyarakat Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang.

B. Hari dan Tanggal

Kamis, 17 September 2026

C. Lokasi

  1. Wilayah Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.
  2. Wilayah Kecamatan Panggang, Kabupaten Bantul.

D. Pelaksana

Kegiatan dilaksanakan oleh Penyuluh Lintas Agama dari Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, bekerja sama dengan pihak terkait di wilayah Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang.

E. Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan berupa:

  • Koordinasi dengan pihak terkait mengenai lokasi dan kebutuhan air bersih.
  • Penyaluran/droping air bersih menggunakan armada tangki air.
  • Penyerahan bantuan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
  • Komunikasi dan silaturahmi dengan masyarakat serta pihak wilayah setempat.
  • Dokumentasi kegiatan sebagai bahan laporan pelaksanaan.

III. URAIAN KEGIATAN

Kegiatan diawali dengan koordinasi antara Penyuluh Lintas Agama Sub Bag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul dengan pihak terkait untuk memastikan lokasi dan sasaran penerima bantuan air bersih.

Selanjutnya, tim melaksanakan perjalanan menuju wilayah Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang. Air bersih kemudian didistribusikan kepada masyarakat di lokasi yang telah ditentukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi lapangan.

Dalam pelaksanaan kegiatan, para penyuluh tidak hanya melakukan penyaluran air bersih, tetapi juga membangun komunikasi dan silaturahmi dengan masyarakat. Kehadiran para penyuluh menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan moral sekaligus menunjukkan kepedulian sosial Kementerian Agama terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.

Kegiatan berlangsung dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian lintas agama. Bantuan diberikan dengan mengedepankan prinsip kemanusiaan, pelayanan, dan persaudaraan tanpa membedakan latar belakang masyarakat penerima.


IV. HASIL KEGIATAN

Adapun hasil yang diperoleh dari kegiatan ini antara lain:

  1. Masyarakat di wilayah Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang memperoleh bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  2. Beban masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dapat sedikit terbantu.
  3. Terjalin komunikasi dan koordinasi yang semakin baik antara Penyuluh Lintas Agama Kemenag Bantul dengan pihak terkait di wilayah sasaran.
  4. Terwujud aksi nyata kepedulian sosial Penyuluh Lintas Agama dalam membantu masyarakat.
  5. Semangat kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong lintas agama semakin diperkuat.
  6. Kegiatan menjadi salah satu bentuk implementasi pelayanan masyarakat dan penguatan moderasi beragama melalui aksi nyata.

V. NILAI-NILAI YANG DIBANGUN

Kegiatan dropping air bersih mengandung beberapa nilai penting, yaitu:

1. Kepedulian
Membangun kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan.

2. Kemanusiaan
Memberikan bantuan berdasarkan kebutuhan masyarakat tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.

3. Gotong Royong
Mendorong kebersamaan berbagai pihak dalam membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

4. Kerukunan
Menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam kegiatan kemanusiaan.

5. Moderasi Beragama
Mengimplementasikan nilai moderasi beragama melalui sikap peduli, toleran, inklusif, dan bekerja sama untuk kemaslahatan bersama.


VI. KENDALA

Dalam pelaksanaan kegiatan, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian, antara lain:

  1. Kondisi geografis beberapa wilayah yang membutuhkan koordinasi dan penyesuaian akses kendaraan.
  2. Kebutuhan air bersih masyarakat yang cukup besar sehingga diperlukan kesinambungan bantuan.
  3. Perlunya koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah wilayah dan pihak terkait untuk menentukan prioritas sasaran bantuan.

Kendala tersebut dapat diatasi melalui koordinasi dan kerja sama antara tim Penyuluh Lintas Agama dengan pihak terkait di wilayah setempat.


VII. TINDAK LANJUT

Sebagai tindak lanjut kegiatan, diperlukan:

  1. Pemantauan kondisi ketersediaan air bersih di wilayah yang membutuhkan.
  2. Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa/kalurahan, dan pihak terkait.
  3. Penguatan sinergi Penyuluh Lintas Agama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
  4. Pelaksanaan kegiatan sosial serupa apabila kondisi masyarakat masih membutuhkan bantuan.
  5. Pendataan kebutuhan masyarakat sebagai bahan koordinasi untuk penanganan lebih lanjut.

VIII. PENUTUP

Kegiatan Bakti Sosial Dropping Air Bersih di Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Panggang pada Kamis, 17 September 2026 telah dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian sosial Penyuluh Lintas Agama Sub Bag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul kepada masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat berupa terpenuhinya kebutuhan air bersih, tetapi juga semakin memperkuat semangat persaudaraan, kepedulian, toleransi, gotong royong, dan kerukunan antarumat beragama.

Melalui kegiatan nyata di tengah masyarakat, Penyuluh Lintas Agama diharapkan semakin mampu menjalankan perannya sebagai pelayan masyarakat, penggerak kerukunan, serta mitra pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling peduli.

Demikian laporan kegiatan ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan bahan dokumentasi serta evaluasi bagi pelaksanaan kegiatan selanjutnya.

Bantul, 17 September 2026

Mengetahui,
Kepala Sub Bag Tata Usaha
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul




................................................
NIP. ............................................


Pelaksana/Penyuluh Lintas Agama




Rogatianus Slamet Widiantono, SS
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul

Rabu, 16 September 2026

PI REMAJA KATOLIK


MATERI PENYULUHAN AGAMA KATOLIK REMAJA


“Hati yang Gembira adalah Obat”

Menjadi Remaja Katolik yang Penuh Sukacita, Harapan, dan Kasih

Sasaran: Remaja Katolik
Durasi: ±60–90 menit
Metode: Sharing, permainan, refleksi, diskusi, dan doa
Tema Kitab Suci:

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
(Amsal 17:22)


1. Tujuan Penyuluhan

Setelah mengikuti kegiatan, remaja diharapkan mampu:

  1. Memahami arti kegembiraan Kristiani.
  2. Menyadari bahwa kehidupan tidak selalu mudah, tetapi selalu ada alasan untuk berharap.
  3. Mampu menghadapi masalah dengan sikap positif dan iman.
  4. Membangun persaudaraan dengan menjadi pribadi yang membawa sukacita bagi orang lain.
  5. Menjadikan Yesus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan.

2. Pembukaan: “Apa yang Membuat Saya Bahagia?”

Ajak peserta menjawab secara spontan:

“Apa yang membuat kamu bahagia?”

Contoh jawaban:

  • Berkumpul dengan sahabat.
  • Mendapat kabar baik.
  • Mendapat nilai bagus.
  • Bermain bersama.
  • Didengarkan orang tua.
  • Diterima oleh teman.
  • Berhasil mencapai sesuatu.
  • Merasa dicintai.



Kemudian tanyakan:

“Apakah kita bisa tetap memiliki sukacita ketika sedang menghadapi masalah?”

Di sinilah kita masuk ke pemahaman bahwa gembira tidak sama dengan hidup tanpa masalah.


3. Hati Gembira Bukan Berarti Tidak Punya Masalah

Sebagai remaja, banyak hal yang dapat membuat hati terasa berat:

  • masalah keluarga;
  • persahabatan yang renggang;
  • merasa tidak diterima;
  • tekanan sekolah;
  • kegagalan;
  • konflik dengan teman;
  • rasa takut terhadap masa depan;
  • terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain;
  • komentar negatif di media sosial.

Kadang kita berpikir:

“Kalau masalahku selesai, barulah aku bisa bahagia.”

Padahal sukacita Kristiani mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Kita boleh menghadapi masalah, tetapi kita tidak harus kehilangan harapan.

Gembira bukan berarti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Gembira berarti tetap membuka hati terhadap kebaikan, kasih, persahabatan, dan penyertaan Tuhan.


4. Apa Arti “Hati yang Gembira”?

Menurut Amsal 17:22, hati yang gembira memiliki kekuatan yang besar bagi kehidupan manusia.

Hati yang gembira adalah:

😊 1. Mampu melihat sisi baik kehidupan

Tidak hanya melihat kekurangan dan masalah, tetapi juga menyadari berkat yang masih dimiliki.

🙏 2. Mampu bersyukur

Remaja yang bersyukur tidak selalu memiliki semuanya, tetapi mampu menghargai apa yang telah diterimanya.

❤️ 3. Mampu mengasihi

Kegembiraan semakin bertumbuh ketika kita berbagi kasih kepada orang lain.

🌱 4. Mampu berharap

Ketika mengalami kegagalan, kita tidak mengatakan:

“Aku tidak bisa.”

Tetapi:

“Aku belum berhasil. Aku akan mencoba lagi.”

✝️ 5. Menyadari bahwa Tuhan menyertai

Sumber utama sukacita orang Kristiani bukan hanya keberhasilan duniawi, tetapi hubungan dengan Allah.


5. Yesus adalah Sumber Sukacita

Yesus menghendaki agar para murid-Nya memiliki sukacita.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”
(Yohanes 15:11)

Sukacita yang diberikan Yesus bukan sekadar tertawa atau bersenang-senang.

Sukacita Kristiani adalah keyakinan bahwa:

Tuhan selalu menyertai kita, bahkan ketika hidup sedang tidak mudah.

Karena itu, seorang remaja Katolik dipanggil untuk menjadi pembawa sukacita, bukan pembawa kebencian, ejekan, atau permusuhan.


6. “Gembira Itu Menular”

Bayangkan ketika kita bertemu seseorang yang:

  • murah senyum;
  • ramah;
  • mau mendengarkan;
  • suka menolong;
  • tidak mudah menghakimi;
  • memberikan semangat.

Bagaimana perasaan kita?

Biasanya kita juga menjadi lebih nyaman dan gembira.

Sebaliknya, ketika seseorang selalu:

  • marah;
  • mengejek;
  • merendahkan;
  • menyebarkan gosip;
  • mencari kesalahan orang lain,

suasana menjadi berat.

Maka tanyakan kepada peserta:

“Ketika saya hadir di tengah teman-teman, apakah suasana menjadi lebih gembira atau justru lebih berat?”

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menjadi bahan refleksi.


7. Tantangan Remaja di Era Digital

Media sosial dapat menjadi sarana yang baik untuk berbagi sukacita, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan.

Misalnya:

“Mengapa hidup orang lain terlihat lebih bahagia daripada hidup saya?”

Kita melihat foto:

  • liburan;
  • prestasi;
  • ulang tahun;
  • pertemanan;
  • kesuksesan.

Tetapi kita sering lupa bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian dari kehidupan seseorang.

Jangan mengukur nilai diri berdasarkan kehidupan orang lain.

Pesan penting:

“Jangan membandingkan proses hidupmu dengan tampilan hidup orang lain.”

Tuhan mempunyai jalan dan waktu yang berbeda bagi setiap orang.


8. Bagaimana Menjaga Hati Tetap Gembira?

🌞 1. Bersyukur setiap hari

Sebutkan minimal tiga hal yang patut disyukuri.

🙏 2. Berdoa

Ceritakan kepada Tuhan apa yang sedang dirasakan.

👨‍👩‍👧 3. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya

Jangan selalu menyimpan semua beban seorang diri.

🤝 4. Membangun persahabatan yang sehat

Pilih pergaulan yang membuat kita bertumbuh.

❤️ 5. Melakukan kebaikan kecil

Menolong teman, menyapa, mendengarkan, dan memberi semangat.

📵 6. Bijak menggunakan media sosial

Tidak semua hal harus dibandingkan, dikomentari, atau diikuti.

✝️ 7. Mendekat kepada Yesus

Melalui doa, Kitab Suci, Ekaristi, dan kehidupan menggereja.


9. Aktivitas: “Botol Sukacita”

Alat: kertas kecil dan wadah/botol.

Minta setiap peserta menuliskan:

“Satu hal yang membuat saya bersyukur hari ini adalah...”

Semua kertas dimasukkan ke dalam botol.

Kemudian beberapa peserta mengambil dan membacakan secara bergantian.

Pesan:

Kadang kita baru menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak alasan untuk bersyukur.


10. Refleksi Pribadi

Berikan waktu hening selama 2–3 menit.

Ajak peserta merenungkan:

  1. Apa yang akhir-akhir ini membuat hatiku tidak gembira?
  2. Apakah aku lebih sering melihat masalah daripada berkat Tuhan?
  3. Siapa orang yang selalu memberikan kegembiraan dalam hidupku?
  4. Apakah aku juga menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain?
  5. Apa satu hal yang ingin aku ubah mulai hari ini?
  6. Apa yang ingin aku serahkan kepada Tuhan?

Kemudian ucapkan bersama:

“Tuhan, ajarlah aku untuk tetap bersukacita, bukan karena hidupku sempurna, tetapi karena aku percaya Engkau selalu menyertaiku.”


11. Pesan Utama untuk Remaja

HATI GEMBIRA BUKAN KARENA HIDUP TANPA MASALAH.

HATI GEMBIRA KARENA KITA TAHU TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKAN KITA.

Jangan menjadi remaja yang hanya mencari kebahagiaan.

Jadilah remaja yang membawa kebahagiaan.

Bawa sukacita:

  • di rumah;
  • di sekolah;
  • di lingkungan;
  • di Gereja;
  • di antara teman;
  • bahkan melalui media sosial.

Karena mungkin saja senyummu hari ini menjadi kekuatan bagi seseorang yang sedang menghadapi hari yang berat.


12. Komitmen Remaja

Ajak peserta mengucapkan bersama:

“Saya mau menjadi remaja Katolik yang membawa sukacita.
Saya mau belajar bersyukur.
Saya mau menghargai diri sendiri dan orang lain.
Saya tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.
Saya mau menjadi sahabat yang baik.
Saya mau menggunakan media sosial secara bijaksana.
Dan saya mau menjadikan Yesus sebagai sumber sukacita dalam hidup saya.”

🌟 Kalimat penutup

“Jangan tunggu hidup sempurna untuk tersenyum.
Tersenyumlah, bersyukurlah, dan percayalah:
Tuhan sedang berjalan bersamamu.”

WFH 10.26

BAGAN LAPORAN KEGIATAN WFH PENYULUH AGAMA KATOLIK KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANTUL Bulan Oktober 2026 No Hari/Tanggal Fokus Kegiat...