Berkah Dalem Gusti

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono,SS ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Sabtu, 29 Agustus 2026

Naskahku


NASKAH RENUNGAN KATOLIK UNTUK SIARAN RRI


“MENGAMPUNI TANPA BATAS”


Berdasarkan Injil Matius 18:21-35


Durasi: ±20 menit


Salam pembuka


Shalom, salam sejahtera untuk kita semua.


Saudara-saudari pendengar RRI yang terkasih,

di mana pun Anda berada dan dalam keadaan apa pun Anda saat ini, marilah kita sejenak menenangkan hati dan membuka diri bagi sapaan kasih Tuhan.


Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan karena pada kesempatan ini kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan waktu untuk bersama-sama merenungkan Sabda Tuhan.


Saya, Rogatianus Slamet Widiantono, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Bantul, mengajak kita semua untuk bersama-sama merenungkan Sabda Tuhan dalam Injil Matius 18:21-35.


Tema renungan kita hari ini adalah:


“Mengampuni Tanpa Batas.”


Saudara-saudari yang terkasih,


Pernahkah kita merasa sangat sulit untuk mengampuni seseorang?


Mungkin ada perkataan yang menyakitkan.

Ada perlakuan yang membuat hati kecewa.

Ada janji yang tidak ditepati.

Ada kepercayaan yang dikhianati.

Atau mungkin ada seseorang yang pernah melakukan sesuatu kepada kita, sehingga setiap kali mengingatnya, hati kita kembali terluka.


Kadang-kadang kita berkata:


"Saya sebenarnya mau memaafkan, tetapi saya belum bisa melupakan."


Atau:


"Saya sudah memaafkan, tetapi jangan berharap hubungan kami kembali seperti dulu."


Bahkan mungkin kita berkata:


"Kesalahan ini terlalu besar untuk dimaafkan."


Saudara-saudari terkasih,


Hari ini Yesus mengajak kita melihat pengampunan dari sudut pandang yang berbeda.


---


1. Pertanyaan Petrus tentang pengampunan


Dalam Injil Matius 18:21-35, Petrus datang kepada Yesus dan bertanya:


"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"


Kalau kita berada di posisi Petrus, mungkin pertanyaan itu terdengar cukup masuk akal.


Tujuh kali?


Bukankah itu sudah banyak?


Kalau seseorang melakukan kesalahan kepada kita satu kali, kita masih bisa memaklumi.


Dua kali, mungkin masih bisa bersabar.


Tiga kali, mungkin kita mulai kecewa.


Tetapi kalau berkali-kali?


Kesabaran kita bisa habis.


Namun jawaban Yesus sungguh mengejutkan.


Yesus berkata:


"Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."


Artinya bukan sekadar menghitung berapa kali kita harus memaafkan.


Yesus tidak sedang memberikan angka matematis.


Yesus sedang mengajarkan sebuah sikap hidup.


Orang Kristiani dipanggil untuk menjadi pribadi yang mau mengampuni.


Mengampuni bukan karena kesalahan orang lain kecil.


Mengampuni bukan berarti kita menganggap perbuatan yang salah sebagai sesuatu yang benar.


Mengampuni juga bukan berarti kita harus membiarkan diri terus-menerus diperlakukan dengan tidak baik.


Pengampunan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita.


---


2. Perumpamaan tentang hamba yang berutang


Kemudian Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan.


Ada seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada rajanya.


Ia tidak mampu membayar utang tersebut.


Sang raja kemudian tergerak oleh belas kasihan dan menghapuskan utangnya.


Bayangkan, saudara-saudari.


Sesuatu yang tidak mampu ia bayar, diberikan pengampunan.


Seharusnya hamba itu bersyukur.


Seharusnya ia mengalami perubahan hati.


Seharusnya belas kasih yang ia terima membuat dirinya juga mampu berbelas kasih kepada orang lain.


Tetapi ternyata tidak demikian.


Ketika ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih kecil, ia justru menuntut dengan keras.


Ia tidak mau mengampuni.


Ia menerima pengampunan yang besar, tetapi tidak mampu memberikan pengampunan kepada sesamanya.


Di sinilah Yesus ingin menunjukkan kepada kita sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan.


Kita senang ketika Tuhan mengampuni kita.


Tetapi kadang-kadang kita sulit mengampuni orang lain.


Kita ingin Tuhan memahami kelemahan kita.


Tetapi kita mudah menghakimi kelemahan orang lain.


Kita berharap orang lain memberikan kesempatan kedua kepada kita.


Tetapi kita kadang-kadang tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada sesama.


---


3. Kita semua membutuhkan pengampunan


Saudara-saudari terkasih,


Kalau kita jujur melihat kehidupan kita, kita semua adalah orang yang membutuhkan pengampunan.


Tidak ada manusia yang sempurna.


Kita pernah salah dalam berbicara.


Kita pernah salah dalam bersikap.


Kita pernah mengecewakan orang lain.


Kita pernah membuat orang tua kecewa.


Kita pernah menyakiti pasangan, anak, saudara, teman, atau rekan kerja.


Kita juga mungkin pernah menyesal karena perkataan yang terlanjur keluar dari mulut kita.


Kadang kita baru menyadari bahwa perkataan kita ternyata melukai hati seseorang.


Karena itu, sebelum kita bertanya:


"Mengapa dia tidak mau meminta maaf?"


mungkin kita juga perlu bertanya:


"Apakah saya sendiri sudah belajar meminta maaf?"


Sebelum kita berkata:


"Dia harus berubah."


mungkin kita perlu bertanya:


"Apakah saya juga bersedia berubah?"


Dan sebelum kita menuntut:


"Dia harus mengampuni saya."


mungkin kita perlu bertanya:


"Apakah saya sudah belajar mengampuni?"


---


4. Mengampuni bukan berarti melupakan


Saudara-saudari yang terkasih,


Ada satu hal penting yang perlu kita pahami.


Mengampuni tidak selalu berarti melupakan.


Ada pengalaman yang memang sulit dilupakan.


Luka hati membutuhkan proses.


Kadang seseorang sudah berkata, "Saya memaafkan," tetapi hatinya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih.


Dan itu manusiawi.


Pengampunan bukan sebuah perasaan yang harus langsung muncul.


Pengampunan sering kali merupakan sebuah keputusan.


Kita memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.


Kita memilih untuk tidak memelihara kebencian.


Kita memilih menyerahkan luka kita kepada Tuhan.


Kita berkata dalam hati:


"Tuhan, saya memang terluka. Saya belum mampu menghilangkan semua rasa sakit ini. Tetapi saya tidak ingin kebencian menguasai hidup saya. Bantulah saya untuk mengampuni."


Itulah sebuah doa yang sederhana tetapi sangat kuat.


---


5. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan


Mengampuni juga bukan berarti mengatakan:


"Tidak apa-apa kamu melakukan kesalahan itu."


Tidak.


Kesalahan tetaplah kesalahan.


Ketidakadilan tetap harus diperbaiki.


Orang yang melakukan kesalahan tetap perlu bertanggung jawab.


Dalam situasi tertentu, menjaga jarak atau membuat batas yang sehat juga bisa diperlukan.


Namun kita tidak harus menyimpan kebencian.


Kita dapat berkata:


"Saya tidak setuju dengan perbuatanmu, tetapi saya tidak ingin membencimu."


Itulah kekuatan kasih Kristiani.


Kita membenci dosa, tetapi tidak membenci manusia.


Kita menolak kejahatan, tetapi tetap mendoakan pertobatan orang yang berbuat salah.


---


6. Pengampunan dimulai dari keluarga


Saudara-saudari terkasih,


Tempat pertama untuk belajar mengampuni adalah keluarga.


Keluarga adalah tempat kita hidup bersama dengan segala kelebihan dan kekurangan.


Suami dan istri bisa berbeda pendapat.


Orang tua bisa salah memahami anak.


Anak bisa mengecewakan orang tua.


Saudara kandung bisa bertengkar.


Tetapi jangan sampai persoalan kecil menjadi tembok yang memisahkan hubungan kita.


Kadang-kadang yang dibutuhkan bukan kata-kata yang panjang.


Cukup sebuah kalimat:


"Maafkan saya."


Atau:


"Saya memaafkanmu."


Atau bahkan:


"Mari kita mulai lagi."


Kalimat sederhana itu bisa menjadi pintu bagi pemulihan sebuah hubungan.


---


7. Pengampunan di tengah kehidupan sosial


Pengampunan juga sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.


Kita hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda.


Berbeda pendapat.


Berbeda latar belakang.


Berbeda cara berpikir.


Bahkan dalam kehidupan beragama, kita dipanggil untuk membangun persaudaraan dan kerukunan.


Jangan sampai perbedaan membuat kita saling membenci.


Jangan sampai sebuah kesalahan membuat kita menggeneralisasi seluruh kelompok.


Jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita kehilangan persaudaraan.


Sebagai orang beriman, kita dipanggil menjadi pembawa damai.


Bukan memperbesar masalah.


Bukan menyebarkan kebencian.


Bukan memperpanjang konflik.


Tetapi menjadi jembatan.


Menjadi orang yang berani mengatakan:


"Mari kita berdamai."


---


8. Tuhan sudah lebih dahulu mengampuni kita


Saudara-saudari terkasih,


Inilah dasar utama pengampunan Kristiani.


Kita mengampuni karena Tuhan lebih dahulu mengampuni kita.


Setiap kali kita datang kepada Tuhan dengan hati yang menyesal, kita percaya bahwa kasih dan kerahiman-Nya selalu terbuka.


Dalam doa Bapa Kami, kita berdoa:


"Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami."


Perhatikan baik-baik kalimat tersebut.


Kita meminta pengampunan kepada Tuhan sambil menyatakan kesediaan untuk mengampuni sesama.


Karena itu, pengampunan bukan sekadar sebuah pilihan tambahan dalam kehidupan orang Katolik.


Pengampunan merupakan bagian dari kehidupan sebagai murid Kristus.


---


9. Pertanyaan untuk kita renungkan


Saudara-saudari pendengar RRI yang terkasih,


Sekarang marilah kita sejenak melihat ke dalam hati kita.


Mungkin ada seseorang yang sampai hari ini belum mampu kita maafkan.


Siapakah dia?


Mungkin orang yang sangat dekat dengan kita.


Mungkin anggota keluarga.


Mungkin sahabat.


Mungkin rekan kerja.


Mungkin seseorang yang pernah mengecewakan kita.


Atau mungkin justru kita sendiri yang belum mampu memaafkan diri kita karena kesalahan masa lalu.


Hari ini Tuhan mengajak kita perlahan-lahan melepaskan beban itu.


Tidak harus sekaligus.


Tidak harus sempurna.


Tetapi mulailah dengan doa.


Katakan kepada Tuhan:


"Tuhan, saya menyerahkan luka ini kepada-Mu."


"Tuhan, ajarlah saya mengampuni."


"Tuhan, berikan saya kekuatan untuk tidak membalas."


"Tuhan, sembuhkan hati saya."


Dan bila memungkinkan, ambillah langkah kecil.


Hubungi seseorang.


Sampaikan permintaan maaf.


Berikan kesempatan untuk berbicara.


Atau sekadar mendoakannya.


Kadang-kadang rekonsiliasi dimulai dari langkah yang sangat kecil.


---


10. Jangan biarkan luka menjadi identitas kita


Saudara-saudari terkasih,


Jangan biarkan kesalahan orang lain menentukan seluruh hidup kita.


Jangan biarkan satu pengalaman buruk membuat kita kehilangan kemampuan untuk percaya kepada kebaikan.


Jangan biarkan kebencian mengambil terlalu banyak ruang dalam hati kita.


Kita memang pernah terluka.


Tetapi kita tidak harus hidup selamanya sebagai orang yang terluka.


Dengan bantuan Tuhan, luka dapat menjadi tempat bertumbuh.


Kekecewaan dapat mengajarkan kita kebijaksanaan.


Pengalaman pahit dapat membuat kita lebih berempati kepada orang lain.


Dan pengampunan dapat membuat hati kita menjadi lebih bebas.


---


11. Penutup: Mari belajar menjadi pribadi yang mengampuni


Saudara-saudari pendengar RRI yang terkasih,


Injil hari ini mengajak kita untuk melihat kembali hidup kita.


Berapa banyak pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan?


Berapa banyak kesempatan kedua yang sudah diberikan Tuhan kepada kita?


Berapa kali Tuhan tetap menerima kita meskipun kita jatuh dan melakukan kesalahan?


Kalau Tuhan begitu murah hati kepada kita, maka marilah kita belajar untuk bermurah hati kepada sesama.


Bukan tujuh kali.


Bukan hanya tujuh puluh kali.


Tetapi dengan hati yang selalu terbuka untuk mengampuni.


Mari kita ingat:


Mengampuni bukan berarti kalah.


Mengampuni adalah keberanian untuk memilih kasih daripada kebencian.


Mengampuni bukan berarti melupakan semua yang terjadi.


Mengampuni berarti menyerahkan luka kepada Tuhan dan memilih untuk terus melangkah.


Dan akhirnya:


Jangan menunggu orang lain berubah untuk mulai mengampuni.


Mulailah dari diri kita sendiri.


Karena mungkin saja, melalui pengampunan kita, Tuhan sedang menyembuhkan bukan hanya hati kita, tetapi juga hati orang lain.


---


DOA PENUTUP


Marilah kita berdoa.


Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.


Tuhan Yesus yang Maharahim,


Terima kasih atas kasih dan pengampunan-Mu yang selalu kami terima dalam kehidupan kami.


Kami sadar bahwa kami adalah manusia yang tidak sempurna.


Kami pernah melakukan kesalahan.


Kami pernah mengecewakan orang lain.


Kami juga pernah terluka oleh perkataan dan perbuatan sesama.


Tuhan, hari ini kami menyerahkan semua luka itu kepada-Mu.


Berikanlah kami hati yang lembut.


Ajarlah kami mengampuni.


Bantulah kami untuk tidak menyimpan dendam.


Bantulah kami untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.


Ketika kami sulit mengampuni, berikanlah kami kekuatan.


Ketika hati kami masih terluka, berikanlah kami kesabaran.


Ketika kami merasa kecewa, berikanlah kami pengharapan.


Dan ketika kami sendiri melakukan kesalahan, berikanlah kami kerendahan hati untuk meminta maaf dan memperbaiki diri.


Tuhan, jadikanlah keluarga kami keluarga yang penuh pengampunan.


Jadikanlah lingkungan kami tempat bertumbuhnya persaudaraan.


Jadikanlah masyarakat kami masyarakat yang damai dan rukun.


Dan jadikanlah kami pribadi-pribadi yang membawa kasih-Mu di mana pun kami berada.


Semoga Sabda-Mu hari ini sungguh hidup dalam diri kami:


"Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."


Tuhan, mampukanlah kami mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami.


Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.


Amin.


Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.


Amin.


Saudara-saudari pendengar RRI yang terkasih,


Demikian renungan kita hari ini.


Semoga kita semua semakin mampu menjadi pribadi yang mudah meminta maaf, tulus mengampuni, dan senantiasa membawa damai bagi sesama.


Saya Rogatianus Slamet Widiantono, Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Bantul, mengucapkan terima kasih atas kebersamaan Anda.


Tuhan memberkati kita semua.


Salam damai dan selamat melanjutkan aktivitas.Naskah ini bisa saya kembangkan lagi menjadi versi benar-benar siap siar RRI, lengkap dengan tanda jeda musik/backsound, intonasi penyiar, pembukaan khas radio, sapaan pendengar, dan penutup ±20 menit.

LapKin Agustus 26

LAPORAN KINERJA PENYULUH AGAMA KATOLIK BULAN AGUSTUS 2026 Nama: Rogatianus Slamet Widiantono, SS Jabatan: Penyuluh Agama Katolik Instansi:...