Berkah Dalem Gusti

Selamat Datang di Blog ini bersama R. Slamet Widiantono,SS ------**------ TUHAN MEMBERKATI -----* KASIH ITU MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA -----* JANGAN LUPA BAHAGIA -----* TERUS BERPIKIR POSITIF -----* SALAM DOA -----* slammy

Rabu, 02 September 2026

Anak yang Hilang

Berikut renungan Katolik bertema “Anak yang Hilang” berdasarkan Lukas 15:11–32, untuk penyuluhan, pendalaman iman, atau renungan umat.

RENUNGAN: ANAK YANG HILANG, BAPA YANG SELALU MENUNGGU

Bacaan: Lukas 15:11–32
Tema: “Sejauh apa pun kita pergi, kasih Bapa selalu membuka jalan untuk kembali.”

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Kisah tentang anak yang hilang merupakan salah satu perumpamaan Yesus yang sangat menyentuh hati. Kita mengenalnya sebagai kisah tentang seorang anak bungsu yang meninggalkan rumah, menghabiskan harta miliknya, kemudian menyadari kesalahannya dan kembali kepada bapanya.

Namun, sebenarnya kisah ini bukan hanya tentang anak yang pergi. Kisah ini terutama berbicara tentang Bapa yang tidak pernah berhenti mengasihi.

Anak bungsu meminta bagian warisannya dan pergi meninggalkan rumah. Ia ingin hidup bebas sesuai keinginannya sendiri. Pada awalnya mungkin ia merasa bahagia. Ia memiliki harta, teman, dan kebebasan. Tetapi ketika semuanya habis, ia mulai merasakan kesepian dan penderitaan.


Di sinilah ia mengalami sebuah kesadaran penting:

“Aku telah salah jalan. Aku harus kembali.”

Saudara-saudari,

Dalam kehidupan kita pun sering kali terjadi hal yang sama. Ada saatnya kita menjauh dari Tuhan. Bukan selalu karena kita tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena kita terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Kita mungkin lebih mengejar kesenangan daripada kebaikan, lebih mengutamakan ego daripada kasih, lebih memilih kepentingan pribadi daripada keluarga, atau lebih mendengarkan keinginan diri daripada suara hati dan kehendak Tuhan.

Kadang-kadang kita baru menyadari betapa berharganya rumah setelah kita merasakan jauhnya perjalanan.

Tetapi kabar gembiranya adalah:

Tuhan tidak pernah menutup pintu bagi orang yang mau kembali.

Ketika anak itu pulang, bapanya tidak menghakimi. Sang bapalah yang melihatnya dari kejauhan, berlari menyambutnya, memeluknya, dan menerimanya kembali.

Inilah gambaran kasih Allah kepada kita.

Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna terlebih dahulu baru mengasihi kita. Justru ketika kita jatuh, tersesat, dan menyadari kesalahan, Allah membuka tangan-Nya dan mengundang kita untuk kembali.

Jangan Takut untuk Pulang

Mungkin ada di antara kita yang sedang merasa jauh dari Tuhan.

Mungkin karena kesalahan masa lalu.
Mungkin karena hubungan keluarga yang retak.
Mungkin karena kecewa kepada seseorang.
Mungkin karena doa yang terasa belum dijawab.
Atau mungkin karena kita merasa tidak layak berada dekat dengan Tuhan.

Hari ini Injil mengingatkan kita:

Jangan takut untuk pulang.

Tuhan bukan Bapa yang sibuk menghitung kesalahan kita. Tuhan adalah Bapa yang menantikan kepulangan anak-anak-Nya.

Pertobatan bukan tanda bahwa kita gagal. Pertobatan adalah keberanian untuk mengatakan:

“Tuhan, saya telah salah. Saya ingin kembali kepada-Mu.”

Dan ketika kita kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.

Jangan Menjadi “Anak Sulung” yang Sulit Mengampuni

Perumpamaan ini juga berbicara kepada anak sulung.

Anak sulung merasa tidak adil. Ia telah lama bekerja dan setia, tetapi ketika adiknya kembali, bapanya mengadakan perayaan.

Sikap anak sulung mengingatkan kita bahwa seseorang dapat tinggal dekat dengan rumah Bapa, tetapi hatinya jauh dari kasih Bapa.

Kita bisa rajin berdoa, aktif di Gereja, terlibat dalam berbagai kegiatan, tetapi masih sulit mengampuni orang lain.

Karena itu, pertanyaan bagi kita bukan hanya:

“Apakah saya sudah dekat dengan Tuhan?”

Tetapi juga:

“Apakah hati saya sudah menyerupai hati Tuhan?”

Hati Tuhan adalah hati yang mampu mengampuni.

Menjadi Rumah yang Menyambut

Keluarga, komunitas, dan Gereja hendaknya menjadi tempat di mana orang yang tersesat dapat menemukan jalan pulang.

Jangan sampai orang yang pernah melakukan kesalahan merasa tidak mempunyai tempat lagi.

Anak-anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan.
Remaja membutuhkan orang dewasa yang tidak cepat menghakimi.
Orang yang jatuh membutuhkan tangan yang membantu untuk bangkit.
Dan setiap orang yang ingin kembali kepada Tuhan membutuhkan komunitas yang menyambutnya dengan kasih.

Kita dipanggil bukan untuk menjadi hakim atas mereka yang jatuh, melainkan menjadi tangan dan hati Bapa yang menyambut mereka kembali.

Penutup

Saudara-saudari yang terkasih,

Ada kalanya kita menjadi seperti anak bungsu: pergi jauh dan tersesat.

Ada kalanya kita menjadi seperti anak sulung: merasa paling benar dan sulit mengampuni.

Tetapi di atas semuanya itu, kita selalu mempunyai seorang Bapa yang penuh belas kasih.

Sejauh apa pun kita pergi, Tuhan tetap membuka jalan untuk pulang.
Sebesar apa pun kesalahan kita, kasih Tuhan lebih besar.
Selama kita mau kembali, pintu kerahiman-Nya tetap terbuka.

Mari hari ini kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah ada bagian dalam hidup saya yang sedang jauh dari Tuhan?”

Jika ada, jangan takut untuk kembali.

Dan ketika ada orang lain yang ingin kembali kepada Tuhan, jangan kita menutup pintu.

Mari kita menjadi pribadi yang membawa kasih, pengampunan, dan harapan.

Karena pada akhirnya, inti dari kisah anak yang hilang bukanlah tentang anak yang meninggalkan rumah, melainkan tentang Bapa yang tidak pernah berhenti menunggu kepulangan anak-Nya.

“Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
(Luk 15:24)

Refleksi:
Hari ini mungkin saya sedang mencari Tuhan. Tetapi sesungguhnya, sejak awal Tuhanlah yang tidak pernah berhenti mencari dan menunggu saya.

Doa singkat:

Tuhan Yesus,
terima kasih karena kasih-Mu tidak pernah meninggalkan kami.
Ketika kami menjauh, tuntunlah kami untuk kembali.
Ketika kami jatuh, berilah kami kekuatan untuk bangkit.
Ajarlah kami untuk mengampuni seperti Bapa mengampuni kami.
Jadikan keluarga dan komunitas kami sebagai rumah yang penuh kasih,
tempat setiap orang dapat menemukan penerimaan, pengampunan, dan harapan.
Amin.

Budaya Jawa dan Gamelan dalam Ekaristi

LAPORAN KEGIATAN PENYULUHAN AGAMA KATOLIK

PENDAMPINGAN BERSAMA PARA PENGGERAK GAMELAN DAN BAHASA JAWA DALAM PERAYAAN EKARISTI

Nama: Rogatianus Slamet Widiantono, S.S.
Jabatan: Penyuluh Agama Katolik
Instansi: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul
Tempat: Paroki Pringgolayan
Hari/Tanggal: Minggu, 30 Agustus 2026
Waktu: 17.00–19.00 WIB

I. NAMA KEGIATAN

Pendampingan dan Dialog Bersama Para Penggerak Gamelan dan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Paroki Pringgolayan sebagai Sarana Penyuluhan Agama Katolik.

II. LATAR BELAKANG

Gereja Katolik hadir di tengah masyarakat dengan berbagai kekayaan budaya lokal. Dalam konteks masyarakat Jawa, gamelan dan Bahasa Jawa merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai luhur, seperti kebersamaan, keselarasan, tata krama, penghormatan, dan gotong royong.

Keterlibatan para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Paroki Pringgolayan menjadi kesempatan bagi Penyuluh Agama Katolik untuk melakukan pendampingan, dialog, dan penguatan iman. Melalui seni dan budaya, pewartaan iman dapat disampaikan secara kontekstual dan dekat dengan kehidupan umat.

III. TUJUAN

  1. Mendampingi para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa dalam pelayanan Gereja.

  2. Mengembangkan pemahaman bahwa budaya lokal dapat menjadi sarana pewartaan iman.

  3. Mendorong pelestarian budaya Jawa dalam kehidupan menggereja.

  4. Menumbuhkan semangat pelayanan, kebersamaan, dan gotong royong.

  5. Mendorong keterlibatan generasi muda dalam seni budaya dan kegiatan Gereja.

  6. Menguatkan penghayatan iman Katolik melalui pendekatan budaya lokal.

IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Minggu, 30 Agustus 2026
Waktu: Pukul 17.00–19.00 WIB
Tempat: Paroki Pringgolayan
Sasaran: Para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa serta umat yang terlibat dalam Perayaan Ekaristi.

Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Katolik melakukan pendampingan dan dialog bersama para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa yang terlibat dalam Perayaan Ekaristi. Dialog diarahkan pada pemaknaan pelayanan seni dan budaya sebagai bagian dari kehidupan iman umat.

V. MATERI PENYULUHAN

Materi yang dibahas meliputi:

  1. Iman dan budaya lokal, yaitu bagaimana budaya Jawa dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan dan mengembangkan iman.

  2. Gamelan sebagai simbol harmoni, di mana setiap alat memiliki fungsi yang berbeda tetapi dapat menghasilkan keselarasan ketika dimainkan bersama.

  3. Bahasa Jawa sebagai sarana komunikasi iman, khususnya dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dekat dengan budaya umat.

  4. Pelayanan sebagai wujud iman, bahwa keterlibatan dalam seni, musik, dan liturgi merupakan bentuk partisipasi umat dalam membangun Gereja.

  5. Pelestarian budaya kepada generasi muda, agar budaya Jawa tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

VI. HASIL KEGIATAN

Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini antara lain:

  1. Terjalinnya komunikasi dan dialog yang semakin baik dengan para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa.

  2. Meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya pelestarian budaya lokal.

  3. Tumbuhnya pemahaman bahwa seni dan budaya dapat menjadi media pewartaan iman.

  4. Meningkatnya semangat kebersamaan dan gotong royong dalam pelayanan Gereja.

  5. Mendorong keterlibatan umat dalam mengembangkan budaya yang selaras dengan nilai-nilai Kristiani.

  6. Terbangunnya pelayanan Gereja yang semakin kontekstual dengan kehidupan masyarakat Jawa.

VII. REFLEKSI PENYULUH

Kegiatan bersama para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa menjadi pengalaman berharga dalam melihat bahwa pewartaan iman dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Gamelan memberikan gambaran tentang pentingnya harmoni dan kebersamaan. Setiap instrumen memiliki karakter dan fungsi masing-masing, namun semuanya saling melengkapi untuk menghasilkan keindahan. Demikian pula dalam kehidupan menggereja, setiap umat memiliki talenta dan peran yang berbeda, tetapi semuanya dipanggil untuk membangun satu tubuh dalam kasih.

Penggunaan Bahasa Jawa juga menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap budaya umat. Dengan pendekatan yang kontekstual, nilai-nilai Injil dapat semakin mudah diterima, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

VIII. TINDAK LANJUT

Sebagai tindak lanjut, Penyuluh Agama Katolik akan:

  1. Melanjutkan pendampingan dan komunikasi dengan para penggerak seni dan budaya.

  2. Mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan gamelan dan budaya Jawa.

  3. Mengembangkan materi penyuluhan yang menghubungkan nilai-nilai Injil dengan kearifan lokal.

  4. Mendorong seni dan budaya sebagai sarana membangun persaudaraan umat.

  5. Mendukung terciptanya kehidupan menggereja yang kontekstual, inklusif, dan menghargai budaya lokal.

IX. PENUTUP

Kegiatan pendampingan dan dialog bersama para penggerak gamelan dan Bahasa Jawa dalam Perayaan Ekaristi di Paroki Pringgolayan pada Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 17.00–19.00 WIB merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Katolik dalam mendampingi umat.

Melalui kegiatan ini, seni dan budaya lokal semakin disadari sebagai bagian yang dapat mendukung pewartaan iman, membangun persaudaraan, serta memperkuat rasa memiliki terhadap Gereja dan budaya bangsa.

Demikian laporan kegiatan ini dibuat sebagai dokumentasi pelaksanaan tugas dan bahan pertanggungjawaban kinerja Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Bantul.

Bantul, 30 Agustus 2026

Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul

Rogatianus Slamet Widiantono, S.S.


Pembuatan Konten Digital

 

LAPORAN KEGIATAN

PEMBUATAN KONTEN DIGITAL PENYULUHAN AGAMA KATOLIK

BULAN AGUSTUS 2026

Nama: Rogatianus Slamet Widiantono, S.S.
Jabatan: Penyuluh Agama Katolik
Instansi: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul
Periode: Agustus 2026

I. PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan peluang yang semakin luas bagi Penyuluh Agama Katolik untuk melaksanakan tugas pelayanan dan pembinaan umat. Penyuluhan agama tidak hanya dilaksanakan melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dapat dikembangkan melalui media digital yang mudah diakses oleh masyarakat.

Pembuatan konten digital penyuluhan agama Katolik merupakan salah satu bentuk inovasi pelayanan untuk menyampaikan pesan iman, nilai-nilai Injil, pembinaan karakter, kehidupan menggereja, serta ajakan untuk membangun kerukunan dan kepedulian sosial.

Selama bulan Agustus 2026, kegiatan pembuatan konten digital diarahkan pada tema-tema yang relevan dengan kalender liturgi Gereja Katolik, pembinaan iman umat, semangat kemerdekaan Republik Indonesia, persaudaraan, toleransi, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

II. DASAR KEGIATAN

  1. Tugas dan fungsi Penyuluh Agama Katolik dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat.

  2. Program kerja Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul Tahun 2026.

  3. Rencana Kinerja Penyuluh Agama Katolik Tahun 2026.

  4. Kalender Liturgi Gereja Katolik Tahun 2026.

  5. Semangat penguatan moderasi beragama, kerukunan umat beragama, dan pemanfaatan teknologi digital secara positif.

III. TUJUAN

Kegiatan pembuatan konten digital bertujuan:

  1. Menyediakan materi penyuluhan agama Katolik yang mudah diakses oleh umat.

  2. Menyampaikan pesan iman Katolik secara sederhana, menarik, dan kontekstual.

  3. Meningkatkan jangkauan pelayanan penyuluhan melalui media digital.

  4. Membantu umat memahami dan menghayati Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Menanamkan nilai kasih, persaudaraan, toleransi, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

  6. Mendukung pelaksanaan tugas dan capaian kinerja Penyuluh Agama Katolik.

IV. WAKTU DAN TEMPAT

Waktu: Bulan Agustus 2026
Tempat: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul dan tempat pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Katolik.

Pembuatan konten dilaksanakan secara berkala, termasuk dalam kegiatan WFH setiap hari Jumat, serta disesuaikan dengan kebutuhan penyuluhan dan momentum kalender liturgi Gereja.

V. BENTUK KEGIATAN

Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:

  1. Menentukan tema konten penyuluhan.

  2. Mengumpulkan dan memilih referensi Kitab Suci serta bahan pendukung.

  3. Menyusun naskah renungan dan pesan penyuluhan.

  4. Membuat desain poster/konten visual.

  5. Menyusun materi edukasi singkat untuk media sosial.

  6. Membuat konten berdasarkan kalender liturgi.

  7. Membuat konten bertema nasionalisme dan semangat HUT Kemerdekaan RI.

  8. Melakukan penyuntingan dan pemeriksaan isi sebelum publikasi.

  9. Membagikan konten melalui media digital yang digunakan dalam pelayanan penyuluhan.

  10. Mendokumentasikan hasil kegiatan sebagai bahan laporan kinerja.

VI. MATERI/KONTEN PENYULUHAN BULAN AGUSTUS 2026

No.Tema KontenMateri/Pesan Utama
1Sabda Tuhan sebagai Pedoman HidupMengajak umat menjadikan Sabda Tuhan sebagai dasar kehidupan.
2Hidup dalam KasihMengembangkan sikap mengasihi sesama dalam kehidupan sehari-hari.
3PengampunanMengajak umat membangun rekonsiliasi dan tidak menyimpan dendam.
4Kerendahan HatiMeneladan sikap rendah hati dalam pelayanan dan kehidupan sosial.
5Kemerdekaan dalam Perspektif ImanMemaknai kemerdekaan sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan melayani.
6Mensyukuri Kemerdekaan RIMengembangkan rasa syukur, nasionalisme, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
7Merawat KerukunanMengajak umat menghargai perbedaan agama, suku, budaya, dan pilihan hidup.
8Iman dan Kepedulian SosialMendorong umat mewujudkan iman melalui kepedulian terhadap sesama.
9Keluarga sebagai Gereja Rumah TanggaMenguatkan kehidupan doa dan komunikasi dalam keluarga.
10Menjadi Saksi Kristus di Era DigitalMenggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, kebenaran, dan kedamaian.
11Bijak Bermedia SosialMenghindari hoaks, ujaran kebencian, dan konten yang memecah persaudaraan.
12Semangat PelayananMengajak umat menggunakan talenta untuk melayani Tuhan dan sesama.

VII. PROSES PEMBUATAN KONTEN

Pembuatan konten dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1. Perencanaan
Menentukan tema berdasarkan kalender liturgi, kebutuhan umat, momentum nasional, serta isu kehidupan masyarakat.

2. Penyusunan Materi
Materi disusun berdasarkan Kitab Suci, ajaran Gereja Katolik, dan konteks kehidupan umat sehingga pesan penyuluhan mudah dipahami dan diterapkan.

3. Produksi Konten
Materi dikembangkan menjadi bentuk visual seperti poster digital, kutipan Kitab Suci, renungan singkat, materi edukasi, dan pesan moral.

4. Penyuntingan
Konten diperiksa kembali dari aspek isi, bahasa, ketepatan pesan, serta kesesuaian dengan nilai-nilai ajaran Katolik.

5. Publikasi dan Pemanfaatan
Konten digunakan sebagai sarana pendukung penyuluhan dan dibagikan melalui media komunikasi digital yang relevan.

6. Dokumentasi
Hasil pembuatan konten didokumentasikan sebagai bukti pelaksanaan tugas dan bahan evaluasi kinerja Penyuluh Agama Katolik.

VIII. HASIL DAN CAPAIAN

Kegiatan pembuatan konten digital selama bulan Agustus 2026 menghasilkan bahan penyuluhan yang dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Mendukung pelayanan penyuluhan agama Katolik kepada umat.

  2. Menyediakan materi singkat yang dapat dibaca dan dibagikan secara mudah.

  3. Memperluas jangkauan penyampaian pesan keagamaan.

  4. Meningkatkan kreativitas dalam pelaksanaan tugas penyuluhan.

  5. Menyampaikan nilai-nilai Injil dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini.

  6. Menguatkan semangat persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.

  7. Mendukung pelaksanaan administrasi dan dokumentasi kinerja Penyuluh Agama Katolik.

IX. NILAI-NILAI YANG DIKEMBANGKAN

Konten digital yang dibuat mengandung nilai-nilai:

  • Iman: memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan.

  • Kasih: membangun kepedulian terhadap sesama.

  • Persaudaraan: menghargai setiap orang sebagai saudara.

  • Toleransi: menghormati perbedaan dan keberagaman.

  • Nasionalisme: mencintai bangsa dan negara.

  • Moderasi beragama: membangun kehidupan beragama yang damai dan menghargai perbedaan.

  • Literasi digital: menggunakan media digital secara bijak, bertanggung jawab, dan positif.

X. EVALUASI

Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik. Tantangan yang ditemui antara lain keterbatasan waktu dalam penyusunan materi, kebutuhan untuk menyesuaikan bahasa dengan karakteristik sasaran penyuluhan, serta pentingnya memastikan bahwa setiap konten yang dipublikasikan memiliki sumber dan pesan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Evaluasi dilakukan dengan memperhatikan relevansi tema, kejelasan bahasa, kualitas visual, ketepatan pesan keagamaan, serta respons masyarakat terhadap konten yang disampaikan.

XI. TINDAK LANJUT

Sebagai tindak lanjut, pembuatan konten digital akan terus dikembangkan dengan:

  1. Menyesuaikan materi dengan kalender liturgi setiap bulan.

  2. Mengembangkan konten untuk berbagai kelompok sasaran, mulai dari anak-anak, remaja, keluarga, hingga lansia.

  3. Menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan kontekstual.

  4. Memperbanyak konten edukatif dan reflektif.

  5. Mengembangkan dokumentasi digital sebagai arsip kegiatan penyuluhan.

  6. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap efektivitas konten.

  7. Mengintegrasikan konten digital dengan kegiatan penyuluhan tatap muka.

XII. PENUTUP

Kegiatan pembuatan konten digital penyuluhan agama Katolik selama bulan Agustus 2026 merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul.

Melalui pemanfaatan media digital, pesan-pesan iman dapat disampaikan secara lebih luas, kreatif, dan kontekstual. Konten yang dihasilkan diharapkan tidak sekadar menjadi informasi keagamaan, tetapi mampu menjadi sarana refleksi, penguatan iman, pembentukan karakter, serta dorongan bagi umat untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan nyata.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk adaptasi Penyuluh Agama Katolik terhadap perkembangan teknologi komunikasi, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai iman Katolik, moderasi beragama, persaudaraan, toleransi, dan semangat membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan damai.

Demikian laporan kegiatan ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan dokumentasi kinerja Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Bantul selama bulan Agustus 2026.

Bantul, 31 Agustus 2026

Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul

Rogatianus Slamet Widiantono, S.S.


Anak yang Hilang

Berikut renungan Katolik bertema “Anak yang Hilang” berdasarkan Lukas 15:11–32 , untuk penyuluhan, pendalaman iman, atau renungan umat. REN...